Efek Kerja Lembur Pada Kesehatan Anda

Tidak semua orang memiliki jadwal kerja yang tetap bahkan dapat melebihi dari jam yang seharusnya. Hampir 15 juta orang Amerika bekerja hingga malam bahkan diluar dari jadwal jam kerja mereka. Menurut U.S. Bureau of Labor Statistics melaporkan banyak orang dewasa bekerja hinga 50 jam atau lebih per minggu.

Hal ini tidak hanya tren di Amerika Serikat, orang di seluruh dunia juga terlibat dalam jam kerja yang panjang atau lembur. Hal ini bisa dikarenakan keinginan untuk mendapatkan uang tambahan, menyukai profesi, kebutuhan untuk pekerjaan atau tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Lembur umumnya terjadi pada profesi seperti dokter dan perawat, pilot, pekerja kontruksi jalan, polisi, pemadam kebakaran, perwakilan layanan pelanggan, pekerja pelayanan makanan dan supir komersial.

Apapun alasannya, jika anda melakukan pekerjaan berjam-jam, dapat berdampak buruk bagi kesehatan anda. Menyadari risiko kesehatan, anda dapat mengambil langkah untuk mengatasi masalah apa pun segera setelah anda melihatnya. Berikut beberapa efek dari kerja terlalu lama atau lembur pada kesehatan anda.

1. Menghambat Tidur

Bekerja selama berjam-jam yang sangat lama dapat memiliki efek merugikan pada tidur anda. Orang yang bekerja hingga malam hari sering hanya mendapatkan tidur kurang dari 6 jam dalam sehari. Pekerja lembur juga lebih mungkin mengalami tingkat serotonin yang lebih rendah.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Sleep Medicine Clinics melaporkan orang yang bekerja hingga malam akan memiliki efek negatif pada tidur, kinerja dan risiko kecelakaan. Misalignment antara fisiologi sirkadian internal dan jadwal kerja menjadi penyebab utama kantuk.

2. Meningkatkan Risiko Diabetes

Bekerja shift malam dapat membuat anda pada risiko yang lebih tinggi mengalami diabetes. Hal ini terutama terjadi karena pergeseran jam kerja berdampak pada aktivitas insulin. Juga menyebabkan tekanan darah tinggi, obesitas dan kadar kolesterol tidak sehat serta risiko serangan jantung dan stroke yang serius.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam PLOS Medicine menunjukkan bahwa periode kerja lembur malam bergilir yang diperpanjang dikaitkan dengan sedikit peningkatan risiko diabetes Tipe 2 pada wanita, yang terlihat melalui berat badan.

Penyaringan yang tepat dan strategi intervensi pada pekerja malam diperlukan untuk pencegahan diabetes. Penelitian yang diterbitkan dalam American Academy of Sleep Medicine menunjukkan bahwa kerja malam dapat mengganggu toleransi glukosa.

Selain itu, kerja lembur terutama pada malam hari dapat menjadi tantangan bagi penderita diabetes, karena dapat menyebabkan kesulitan potensial terkait dengan waktu makan dan jadwal pengobatan.

3. Menyebabkan Obesitas

Tidur terlalu sedikit atau kurang dari jam biologis alami tubuh Anda dapat menyebabkan obesitas. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Science Translational Medicine melaporkan bahwa terlalu sedikit pola tidur atau tidur yang tidak konsisten dengan “jam biologis internal” tubuh kita dapat menyebabkan peningkatan risiko diabetes dan obesitas

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di PLoS ONE menemukan bahwa kerja shift malam kumulatif menunjukkan hubungan yang signifikan dengan indeks massa tubuh (BMI), lingkar pinggang, lingkar pinggul dan rasio pinggang-ke-tinggi.

Dalam sebuah analisis dengan 28 penelitian yang diterbitkan, bahwa kerja lembur hingga malam dikaitkan dengan 29 persen peningkatan risiko menjadi obesitas atau kelebihan berat badan. Temuan ini diterbitkan dalam Obesity Reviews dan menyarankan bahwa memodifikasi jadwal kerja untuk menghindari paparan yang terlalu lama untuk pekerjaan malam jangka panjang dapat membantu mengurangi risiko obesitas

4. Menghambat Kesehatan Jantung

Bekerja shift malam buruk bagi jantung, karena bekerja hingga larut malam membuat jantung anda terus bekerja dan kurang istirahat.

Selain itu, jika anda sedang stres di tempat kerja, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang keras di hati Anda. Ini dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit arteri koroner dan banyak lagi.

5. Membuat Anda Tertekan

Kerja lembur dapat memiliki dampak pada kesehatan mental anda. Tekanan, stres dan gangguan tidur semua memainkan peran utama dalam memberikan kontribusi atas gangguan mood seperti depresi. Gangguan tidur yang terkait dengan kerja lembur merupakan faktor risiko sangat penting untuk depresi, gangguan bipolar dan bunuh diri.

Penelitian oleh International Journal of Occupational and Environmental Health menunjukkan bahwa depresi terjadi pada tingkat yang lebih tinggi di antara pekerja lembur daripada pekerja yang tidak lembur. Juga tingkat tertinggi dialami oleh wanita daripada pria.

Penelitian dalam International Journal on Disability and Human Development, para peneliti menemukan bahwa kerja lembur dapat meningkatkan risiko mengembangkan atau memperparah gangguan mood, setidaknya pada individu yang rentan.

6. Menyebabkan Masalah Pencernaan

Kerja lembur juga tidak baik untuk kesehatan pencernaan anda. Bahkan, dapat menyebabkan atau memperburuk gejala mual, diare, sembelit dan beberapa penyakit usus fungsional seperti sindrom iritasi usus.

Semua ini terjadi karena pergeseran kerja, meskipun tidak secara signifikan mengubah total asupan kalori namun sering mengubah waktu dan frekuensi makan serta isi makanan. Apalagi, makanan sering dingin dan biasanya dimakan terburu-buru.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology, para peneliti menemukan bahwa mereka yang melakukan kerja lembur atau jam kerja yang berputar berada pada peningkatan risiko mengembangkan sindrom iritasi usus dan sakit perut.

Sebuah tinjauan pustaka di Scandinavian Journal of Work, menemukan bahwa pergeseran jam kerja tampaknya memiliki peningkatan risiko penyakit ulkus peptikum dan gejala gastrointestinal.

Selain itu, sebuah penelitian yang diterbitkan International Archives of Occupational and Environmental Health melaporkan bahwa bekerja lembur di malam hari merupakan faktor risiko untuk esofagitis erosif.

Menghindari kerja malam dan gaya hidup modifikasi harus dipertimbangkan untuk pencegahan dan Manajemen gastroesophageal refluks penyakit (GERD).

« Previous Post